*Ilma Saakinah Tamsil M.Comm[1]
Sejak pandemi virus corona melanda bumi pertiwi, berbagai permasalahan sosial dan ekonomi muncul dari segala sektor. Perubahan sosial dan ekonomi yang sangat drastis membuat masyarakat tidak henti berkeluh kesah. Kenyataan pahit yang harus dihadapi, membuat seluruh warga berfikir keras mencari cara untuk bertahan dan menyambung hidup. Perusahaan-perusahaan besar kebanggaan tanah air pun turut berjuang menghadapi pandemi, berbagai cara dilakukan untuk tetap bertahan. Tindakan pemutusan hubungan kerja juga tidak lagi enggan dilakukan, karena minimnya pemasukan. Tidak sedikit perusahaan, lembaga/organisasi, usaha makro/mikro terpaksa mengurangi jumlah tenaga kerjanya, karena omset yang sangat menurun. Begitu dahsyat dampak Covid-19 bagi kehidupan manusia. Dampak negatif yang mendominasi membuat emosi kerap tidak terbendung.
Tidak dapat dipungkiri pandemi Covid-19 hampir melumpuhkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Hampir delapan bulan sudah berlalu, berbagai upaya dilakukan pemerintah dan elemen masyarakat untuk mengantisipasi dan mencari solusi dari pandemi ini. Pemerintah melakukan berbagai kebijakan seperti menghimbau rakyatnya untuk menerapkan social distancing, physical distancing, work from home, pembatasan wilayah, membangun rumah sakit khusus untuk penanganan Covid-19, menegaskan warganya untuk selalu menggunakan masker jika keluar rumah.
Sejak awal Maret 2020, kasus virus corona di Indonesia masih belum juga terkendali. Sebelumnya, pemerintah telah menetap-tindakan seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang merupakan strategi guna mencegah penyebaran virus corona penyebab Covid-19. Sejumlah kegiatan yang melibatkan publik dibatasi, seperti perkantoran atau instansi diliburkan, pembatasan kegiatan keagamaan dan pembatasan transportasi umum. Kini, ketika masuk di fase new normal, kasus virus corona justru semakin meningkat dan Indonesia justru berpotensi menjadi episentrum baru virus corona di dunia. Kurangnya kesadaran masyarakat memakai masker 3 lapis, tidak rajin cuci tangan, tidak menjaga jarak aman, bahkan tetap melakukan interaksi dengan banyak orang, yang mana hal itu sangat berisiko terhadap penularan.
Banyak sebab mengapa lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia meningkat. Dari awal, pemerintah Indonesia menganggap sepele dan menganggap orang Indonesia kebal terhadap virus ini. Namun ketika virus benar-benar datang, barulah kita panik. Jika pemimpin negara-negara lain memperluas kampanye layanan masyarakat, menyiapkan rumah sakit, menetapkan prosedur dan protokol pada sarana umum, pemerintah Indonesia cenderung kedodoran. Kordinasi antara pemerintah pusat dan daerah sangat lemah, miskomunikasi antara kementerian kesehatan dengan instansi lainnya terlihat jelas bagaimana kasus pertama diumumkan. Pemerintah seolah-olah memprioritaskan citra daripada keselamatan warganya. Selain itu, komunikasi antara ilmuwan, pemerintah dan masyarakat juga lemah. Komunikasi antara ilmuwan dan pemerintah sebagai pengambil kebijakan tidak dijembatani dengan baik. Disamping itu, ketidakjelasan dalam perumusan kebijakan dan komunikasi publik menyebabkan masyarakat bingung. Kebijakan pemerintah yang tidak tegas bahkan sering tidak sinkron juga menimbulkan celah yang akhirnya membuat masyarakat melanggar protokol pencegahan Covid-19. Contohnya masih ramainya masyarakat berbelanja di pasar tradisional tanpa memakai masker yang benar, tidak adanya penerapan jarak fisik, bandara Soekarno Hatta Jakarta dipadati penumpang ketika menjelang perayaan Idul Fitri beberapa bulan yang lalu. Kerumitan masalah yang muncul selama pandemi Covid-19 juga terjadi karena masyarakat kurang diedukasi, minimnya pemahaman yang benar akan penularan Covid-19 menyebabkan masyarakat tidak disiplin menjalankan protokol kesehatan, sebagian tidak percaya sains, bahkan mengembangkan antitesis-antitesis baru menurut versi mereka sendiri “Ah mana ada itu corona”, “Kalau sudah waktunya mati ya mati saja”. “Untuk apa vaksin? Tuhan kan sudah memberikan kekebalan kepada kita”, “Corona itu konspirasi” yang tidak hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia.
Maka upaya yang dapat dilakukan adalah dengan komunikasi efektif agar penanganan Covid-19 dapat lebih mudah dilakukan. Salah satunya diperlukan pertukaran informasi antara pemerintah, lembaga non pemerintah dan masyarakat yang harus berjalan lancar dan tuntas, jangan sampai ada pertukaran informasi yang tidak tersampaikan/terputus karena dapat memicu terjadi kesalahpahaman bagi yang menerimanya.
Walaupun sudah ada peraturan Walikota No 27 tahun 2020 yaitu tentang pelaksanaan adaptasi kebiasaan baru di kota Medan, namun banyak masyarakat terlihat cuek. Di tempat-tempat umum sangat ramai seperti tidak ada pandemi, orang-orang bebas berkumpul, pergi ke pemandian alam, duduk nongkrong berlama-lama. Hampir semua kasus penularan bersumber dari kota Medan yang menjadi episentrum kasus di Sumatera Utara. Walau jumlah pasien sembuh ada, namun tidak otomatis mengindikasikan virus corona melemah. Penerapan new normal di Indonesia sangat prematur dan membuat salah kaprah karena nyatanya belum dipahami sepenuhnya oleh masyarakat. Masyarakat memahami new normal sebagai anjuran untuk kembali beraktivitas seperti biasa, sama seperti saat sebelum pandemi Covid-19 terjadi yaitu kembali normal. Hal ini selanjutnya memunculkan beragam sentimen di kalangan publik. Konsep new normal sebenarnya dibuat agar masyarakat kembali produktif di tengah pandemi dengan sejumlah aturan ketat, mulai dari menerapkan protokol kesehatan, menjaga jarak fisik, sampai menghindari kerumunan. Tetapi yang terjadi justru kehidupan kembali normal seperti sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Banyak kita lihat orang-orang gowes alias bersepeda bersama tanpa menjaga jarak, di pasar tradisional hampir seluruhnya tidak memakai masker dan menerapkan jarak sosial, masih banyaknya orang yang tidak memakai masker di jalanan, ketika mengendarai sepeda motor ataupun orang-orang yang duduk di kafe. Masalah lainnya adalah pada masyarakat kelas menengah ke bawah, faktanya kurang memahami istilah-istilah seperti protokol kesehatan, lockdown, social/physical distancing, self isolation, quarantine. Bagaimana masyarakat kita bisa taat aturan, istilah saja mereka tidak mengerti? Adapun hasil survei tentang Covid-19 yang penulis lakukan melalui wawancara di kerumunan pasar tradisional (pasar halat dan pasar petisah Medan) yakni :
| Covid sebagai |
Penyakit |
Wabah |
| |
82% |
18% |
| Protokol Kesehatan |
Tahu |
Tidak Tahu |
| |
19% |
81% |
Lantas bagaimana peran komunikasi efektif untuk membangun pembiasaan baru sebagai sarana perubahan perilaku masyarakat dalam menghadapi Covid-19? Hampir seluruh aktivitas manusia yakni 90% adalah berkomunikasi. Dengan kata lain, komunikasi sudah menjadi bagian rutinitas manusia. Jika komunikasi sudah menyatu dalam rutinitas seseorang, maka akan berimplikasi secara langsung terhadap karakter diri sendiri melalui pembiasaan sehingga menjadi kebiasaan dan juga berdampak secara tidak langsung terhadap orang lain, apakah dalam proses yang cepat ataupun lambat tergantung pada intensitas dan efektifitas komunikasi yang terjalin.
Pengertian komunikasi menurut Onong[2] adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku baik langsung secara langsung ataupun tidak langsung. Menurut James A.F. Stones[3], komunikasi adalah proses di mana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan. Menurut J.L. Aranguren[4] komunikasi adalah pengalihan komunikasi untuk memperoleh tanggapan. Sementara itu, Melvin L. De Fleur[5] mendefinisikan komunikasi sebagai pengkoordinasian makna antara seseorang dengan khalayak. Menurut Deddy Mulyana[6] komunikasi secara etimologi berasal dari kata Latin communis yang berarti sama, communico, communication, atau communicare yang berarti membuat sama. Komunikasi menyarankan suatu pikiran, suatu makna atau suatu pesan dianut secara sama. Komunikasi merupakan proses menciptakan suatu kesamaan (commonness) atau suatu kesatuan pemikiran antara pengirim dengan penerima. Berdasarkan dua pemahaman mengenai komunikasi ini, dapat diartikan secara garis besar bahwa komunikasi merupakan sebuah proses penyampaian suatu pikiran, makna, atau pesan oleh pengirim kepada penerima dengan maksud untuk mencapai kesatuan dan kesamaan pemahaman.
Pengertian komunikasi efektif secara etimologi adalah pemberitahuan, memberi bagian, pertukaran di mana si pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya yang berasal dari kata communicara, berarti bermusyawarah, berunding dan berdialog. Komunikasi berlangsung apabila orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan. Komunikasi efektif adalah menyampaikan sesuatu dengan cara yang tepat dan jelas sehingga informasi yang kita sampaikan dapat dengan mudah dimengerti oleh orang lain. Komunikasi efektif menjadi salah satu hal penting di mana komunikator dapat menyampaikan pesannya secara baik dengan menggunakan media yang tepat dan dapat diterima oleh sasaran yang tepat. Komunikasi dikatakan efektif apabila terdapat aliran informasi dua arah antara komunikator dan komunikan dan informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut. Menurut Jalaludin Rakhmat[7], komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik dan pada akhirnya menimbulkan suatu tindakan. Thomas Leech[8] menambahkan, untuk membangun komunikasi yang efektif, setidaknya kita harus menguasai empat keterampilan dasar dalam komunikasi yaitu membaca-menulis (bahasa tulisan) dan mendengar berbicara (bahasa lisan). Maka, terdapat lima aspek yang perlu dipahami dalam membangun komunikasi yang efektif antara lain :
- Kejelasan yakni komunikasi harus menggunakan bahasa dan mengandung informasi secara jelas, sehingga mudah diterima dan dipahami oleh komunikan.
- Ketepatan/Akurasi yakni penggunaan bahasa yang benar dan kebenaran informasi yang disampaikan.
- Konten yakni bahasa dan informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan lingkungan di mana komunikasi itu terjadi.
- Alur yakni bahasa dan informasi yang akan disajikan harus disusun dengan alur atau sistematika yang jelas, sehingga pihak yang menerima informasi cepat tanggap.
- Budaya yakni dalam berkomunikasi harus menyesuaikan dengan budaya orang yang diajak berkomunikasi, baik dalam penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal, agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi.
Untuk dapat berkomunikasi secara efektif kita perlu memahami aspek-aspek komunikasi, antara lain:
- Komunikator yang efektif jika seseorang cakap melakukan komunikasi dengan memiliki credibility, capability, clarity, symphaty dan enthusiasity. Capability atau kapabilitas maksudnya seorang pembicara efektif dituntut memiliki kecakapan/kemampuan yang Tidak harus pintar, tetapi cukup memadai misalnya mengemukakan fikiran secara singkat, jelas dan padat sehingga dapat meyakinkan audiens dengan mudah. Untuk itu, diperlukan persiapan yang matang dalam mengemas materi pembicaraan secara sistematis, runtut dan logis. Selain itu, kecakapan mempertahankan fikiran atau pendapat dalam forum pertemuan yang bersifat dialogis atau komunikasi dua arah misalnya dalam seminar, diskusi, kemampuan mengkoordinasikan serta mengkombinasikan komuniksi verbal dan non verbal secara tepat. Clarity atau kejelasan dan ketepatan ucapan. Komunikator efektif dituntut mampu mengkomunikasikan pesan kepada audiens dengan harus vokal sebagai media pengungkapan ekspresi merupakan media penyampaian informasi melalui pengucapan karena keterampilan tersebut sangat dipengaruhi tingkat kejelasan penyampaian materi atau pesan. Sympathy atau simpatik maksudnya seorang pembicara memiliki ketulusan, kesabaran dan kegembiraan sehingga audiens merasa puas. Misalnya selalu tersenyum, ada kontak mata, ramah, terbuka dan ceria. Enthusiasity atau antusiasme di mana pembicara yang antusias, memiliki semangat tinggi, penampilan energik, lincah, serta wajah yang berseri.
- Pesan yang Efektif adalah jika antara pengirim dan penerima pesan mengartikan pesan secara sama. Kata-kata yang memiliki lebih dari satu makna dapat menimbulkan salah pengertian dan kebingungan. Pesan yang dipertukarkan harus jelas, ringkas, logis, akurat, objektif, aktual, tidak terputus sehingga penerima pesan dapat menerima atau mengulanginya dengan benar.
- Media yang Efektif yakni karakteristik media penyampaian terdiri dari kebutuhan cakupan jangkauan dan kecepatan penetrasi. TV, radio dan Internet dapat menyampaikan pesan untuk khalayak yang lebih luas. Jika pesan yang ingin disampaikan melihat tingkat kebutuhan yang tinggi untuk diingat, maka spanduk, poster, baliho, billboard dapat menjadi pilihan. Jika pesan yang ditujukan untuk target tertentu, maka surat kabar dapat menjadi pilihan. Jika pesan yang ingin disampaikan bersifat lokal, maka media lokal dapat menjadi salah satu pilihannya. Jika pesan yang ingin disampaikan membutuhkan media dengan frekuensi tinggi, maka radio ataupun media luar ruang dapat menjadi salah satu pilihannya. Alan R. Dennis dan Joseph S. Valacich[9] mengatakan bahwa efektivitas suatu media ditentukan berdasarkan sejauhmana suatu media dapat mendukung proses sinkronisitas di antara beberapa individu untuk bekerjasama dalam kegiatan yang sama, dan pada waktu yang sama untuk mencapai kesamaan tujuan. Kapasitas media sendiri dapat diamati dari beberapa dimensinya yang akan mempengaruhi proses komunikasi tersebut antara lain seberapa cepat suatu media mendukung proses komunikasi dua arah, banyaknya cara penyampaian beragam informasi, banyaknya pesan dari beberapa sumber yang dapat diakomodir secara simultan, kemampuan yang memungkinkan pengirim menyunting pesan sebelum dikirimkan, dan sejauh apa sebuah pesan dapat dikaji ulang atau diolah kembali dalam konteks komunikasi yang terjadi. Dengan menganalisa dimensi-dimensi tersebut, efektivitas suatu media akan ditentukan berdasarkan dimensi mana yang dianggap paling penting dalam suatu konteks komunikasi. Dengan kemajuan teknologi komunikasi sekarang ini, hampir semua media komunikasi yang tradisional maupun digital digunakan semua orang dengan mempertimbangkan tingkat kepentingan masing-masing. Sedangkan efektivitas dari masing-masing media komunikasi tersebut akan ditentukan oleh masing-masing penggunanya berdasarkan dimensi apa yang dianggap paling penting dalam sebuah konteks komunikasi.
- Penerima Pesan/Audien yakni ukuran keberhasilan dalam penyampaian informasi adalah komunikan memahami pesan yang disampaikan oleh komunikator. Audiens merujuk pada sekumpulan orang yang terbentuk sebagai akibat atau hasil dari kegiatan komunikasi yang dilakukan dan jumlahnya besar, tidak saling mengenal dan heterogen. Tingkat pemahaman seseorang dapat berbeda-beda tergantung faktor misalnya latar belakang pendidikan, jenis kelamin, usia ataupun status sosial.
- Efek merupakan apa yang ingin dicapai dengan hasil komunikasi, atau apa yang dilakukan orang sebagai hasil dari komunikasi. Tingkah laku seseorang tidak hanya disebabkan oleh faktor hasil komunikasi tetapi dapat juga dipengaruhi oleh faktor lain.
Mengatasi pandemi ini bukanlah sesuatu yang mudah apalagi pemerintah Indonesia dari awal menunjukkan sikap ketidaksiapan menghadapi krisis sebagai dampak pandemi Covid-19. Padahal pola komunikasi krisis di tengah bencana harus dilakukan dengan cermat agar tidak menimbulkan krisis lain yakni krisis komunikasi. Perdebatan kebijakan, jumlah kasus yang tidak jelas, hingga stigma soal pasien Covid-19 menunjukkan kegagalan pemerintah Indonesia menciptakan pola komunikasi krisis yang baik. Cara komunikasi pemerintah seharusnya diubah berdasarkan strategi komunikasi yang transparan, jujur, dan akuntabel. Kecenderungan pemerintah memberikan informasi terbatas pada hal-hal yang dianggap tidak akan membuat masyarakat panik. Cara komunikasi pemerintah terlihat on-off yakni tidak gencar. Salah satunya terlihat dari pembubaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang kemudian diganti dengan Komite Kebijakan atau Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 serta PSBB dilonggarkan, menganggap Covid-19 sudah hilang.
Sudah saatnya fokus utama pemerintah yaitu melakukan pencegahan, mengedepankan kepedulian dan tanggung jawab dalam penanganan wabah Covid-19. Hasil survei Indikator Politik Indonesia pada Juli 2020 menunjukkan responden yang berpendapat, pemerintah seharusnya memprioritaskan masalah kesehatan berimbang dengan masalah ekonomi. Kita sebagai masyarakat harus maju ke depan. Langkah yang diperlukan saat ini adalah sinergi dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat. Bangun kebersamaan seluruh komponen dengan melepaskan peran ideal masing-masing. Maksimalkan peran-peran tokoh masyarakat sebagai komunikator baik formal maupun informal. Bina sebuah wadah untuk gerakan membentuk kerjasama dari tingkat kota sampai kelurahan. Berikan pemahaman dan edukasi dengan empati terhadap wabah dan terus melakukan kampanye tatanan kehidupan normal baru yang benar. Hal ini sesuai dengan 5 hukum komunikasi efektif (The 5 Inevitable Laws of Effective Communication) yaitu REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity and Humble) memiliki makna bagaimana meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari orang lain.
Pemerintah sebagai komunikator efektif harus merubah cara penyampaian dengan memberikan gagasan menarik mengenai covid-19 melalui kebijakan yang dapat diterapkan masyarakat tanpa menimbulkan persoalan baru di masyarakat. Menjalankan komunikasi efektif dengan menciptakan konten yang mudah di pahami oleh masyarakat melalui media efektif, melakukan binaan kepada masyarakat dengan memberikan pemahaman yang benar, meningkatkan sosialisasi secara masif dalam penerapan protokol kesehatan dengan melibatkan tokoh masyarakat, mengkampanyekan untuk memakai masker, menyediakan sarana cuci tangan yang praktis di seluruh fasilitas umum, mengajak masyarakat terlibat aktif dalam pencegahan penularan Covid-19.
Respons empati juga harus diperlihatkan pemerintah sebagai rasa peduli kepada rakyatnya. Jika empati ditunjukkan, maka kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah bakal meningkat. Pada akhirnya, masyarakat akan lebih mudah diajak bekerja sama menanggulangi Covid-19 karena jika ingin mendapatkan kepatuhan masyarakat, maka pemerintah sebagai komunikator harus membuat strategi komunikasi yang efektif dan beretika untuk menyampaikan pesan dan mendapatkan kepercayaan di tengah pandemi. Pemerintah juga semestinya menerapkan etika komunikasi krisis sebaik mungkin dengan cara menyampaikan informasi yang transparan terkait penanganan Covid-19. Empati, kejujuran, serta keadilan, menjadi kunci komunikasi krisis untuk menciptakan kerja sama yang harmonis antara pemerintah dan rakyat dalam menanggulangi dampak pandemi Covid-19. Sampaikan kondisi saat ini apa adanya serta beri peringatan yang tidak boleh dilakukan selama wabah ini belum selesai. Pahami juga kondisi psikologis masyarakat di tengah pandemi yang mudah stres dan depresi.
Pesan disampaikan sejelas mungkin agar tidak ada kesalahpahaman penafsiran informasi di kalangan publik. Misalnya menerjemahkan istilah-istilah protokol kesehatan yang tidak difahami masyarakat dengan bahasa dan contoh yang lebih sederhana sebagai pesan efektif sehingga penyampaian pesan dengan bahasa yang dipahami semua pihak secara universal sebagai wujud penerapan unsur keadilan dalam etika krisis komunikasi. Jika makna pesan dipahami dengan baik, maka penanganan krisis semakin mudah dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah pun bakal meningkat karena kegagalan komunikasi dapat memperburuk keadaan dan mempersulit pemerintah menangani krisis. Maka, etika dalam komunikasi krisis merupakan bagian penting yang tidak boleh diabaikan. Sehingga tercipta satu alur komunikasi yang efektif dan tepat antara pemerintah dan masyarakat melalui peran komunikasi dan informasi yang sudah didesentralisasi. Untuk itu, masyarakat terlebih dahulu harus mengetahui protokol kesehatan, kemudian sadar mempercayai, dan akhirnya melaksanakan kerjasama untuk melakukan perubahan perilaku. Maka yang diperlukan penyampaian pesan himbauan dari pemerintah harus sampai ke tahap kognitif, afektif dan konatif.
Pada upaya membangun komunikasi positif demi memperoleh dukungan publik, maka penciptaan tanda yang dimanifestasikan dalam bentuk pesan-pesan organisasi haruslah didesain dan direncanakan sedemikian rupa dari hulu sampai ke hilir. Hal ini dimaksudkan agar pesan dari organisasi tidak dimaknai secara konotatif dan multitafsir yang cenderung negatif sehingga dapat menciptakan komunikasi/hubungan yang harmonis di masyarakat.
WHO memprediksikan pandemi ini akan berlangsung lama, bahkan sampai 10 tahun ke depan. Dampak yang ditimbulkan selama pandemi ini telah berlangsung beberapa bulan terakhir. Ekonomi beberapa negara di dunia babak belur dan sudah diambang resensi. Jika hanya mengharapkan pemerintah turun tangan, maka wabah ini tentunya tidak dapat terkendali. Jadi yang harus mengambil andil adalah kita semua, masyarakat. Libatkan tokoh-tokoh panutan/key person/uswatun hasanah/opinion leader yang dapat menerapkan perubahan karakter serta mengomunikasikan situasi ini tanpa membuat kepanikan semakin melebar. Seperti yang dikatakan Paul Lazarfeld dalam Two Step Flow Communication[10], di mana ketokohan opinion leader ini sangat dibutuhkan melihat masyarakat Indonesia yang masih sangat mengagungkan ketokohan seseorang yang layak dijadikan panutan karena pandangan opinion leader sedikitnya banyak dipengaruhi berbagai informasi yang diperoleh salah satunya dari media massa. Selain itu, melakukan kolaborasi dengan sukarelawan, kelompok pemuda, agama, masyarakat adat, juga merupakan hal yang penting karena bisa menjadi masukan dari yang mewakili khalayak yang berbeda. Berkoordinasi dan berkolaborasi dengan sumber kredibel lainnya akan membantu mendapatkan pesan kunci dengan efektivitas lebih besar. Tokoh-tokoh influencer dan public figure seperti artis, penyanyi dan politis juga berperan memberikan kontribusi dan pengaruhnya untuk hal-hal yang baik pula.
Namun yang perlu di ingat, kontribusi terbesar sebagai langkah konkrit paling utama adalah keterlibatan seluruh elemen masyarakat melalui perubahan perilaku yang disiplin memakai masker, tidak berkumpul, melakukan sosial distancing, rajin mencuci tangan merupakan strategi untuk memperlambat penularan yakni tidak ditularkan dan tidak menularkan, merupakan pilihan utama sebagai strategi murah, mudah dan terukur sebagai upaya dalam menyelamatkan banyak nyawa. Hal ini juga akan memberikan dampak ke bidang kehidupan lainnya misalnya sosial, ekonomi budaya karena selesainya pendemi sangat bergantung dengan bagaimana sikap kita sehari-hari. Pemahaman yang salah, sikap yang salah, dampaknya bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk masyarakat luas. Maka, mulai dari penggunaan masker yang benar akurasinya adalah 95-100%. Banyak kita jumpai orang-orang berkeliaran di jalan namun tidak memakai masker secara benar yakni memakai masker tapi hanya menutupi mulut dan hidung terbuka atau masker diturunkan ke dagu. Melakukan cuci tangan yang benar akurasinya adalah 100%. Melakukan jaga jarak yang benar akurasinya adalah 100%. Kita harus menerapkan perilaku taat dengan memastikan kebersihan pernapasan (penggunaan masker, etiket batuk dan bersin sebagai sumber virus) dengan tujuan memperlambat penularan yakni dengan tidak menularkan dan tidak ditularkan. Mulailah peduli untuk diri sendiri dan orang lain. Sikap seperti ini boleh kita contoh dari perilaku masyarakat masyarakat di Jepang (bukan kasus Covid-19) mereka memakai masker ketika sakit influenza dengan tujuan untuk tidak menularkan kepada orang lain. Perilaku ini sudah menjadi kebiasaan warga Jepang sejak belasan tahun lalu. Kiranya kita harus belajar sikap ini dari negara Jepang.
Perubahan perilaku ini pasti awalnya sulit namun lama-kelamaan pembiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang dapat menjadi sebuah kebiasaan secara disipilin dan berkelanjutan sehingga dapat menjadi karakter kita. Pada dasarnya manusia bisa dan akan melakukan sesuatu dengan baik jika mendapat pemahaman yang jelas. Ada tiga cara untuk mengubah perilaku manusia yaitu dibujuk, diberi penghargaan, dan diberikan sanksi/dihukum, namun mengubah perilaku tidak mudah. Jika mau disiplin, tidak abai, sosialisasi terus dilakukan, hukuman dijalankan sebagai upaya penyadaran, Insha Allah kita bisa sukses melawan Covid-19. Contohnya seperti di Vietnam. Peran sentral masyarakat yakni mematuhi semua aturan pemerintah.
Dengan menerapkan perilaku seperti ini, rumah sakit dan tim medis pun akhirnya akan tertolong. Walaupun sudah ada Pergub mengenai rumah sakit rujukan dan rumah sakit regional namun kita harus tetap membantu meringankan beban rumah sakit karena tidak sedikit rumah sakit mengalami cash flow serta demotivasi staff semasa pandemi ini. Di Indonesia, kematian tenaga kesehatan terkait Covid termasuk yang tertinggi. Para tenaga kesehatan sehari-hari bekerja dengan was-was karena pada dasarnya mereka juga manusia biasa. Ganti persepsi garda terdepan bukanlah rumah sakit melainkan keikutsertaan masyarakat dalam penanggulangan sumber wabah. Tenaga kesehatan posisinya paling di belakang menyelesaikan yang tidak teratasi di masyarakat.
Masalah Covid-19 selain sebagai wabah, juga sebagai masalah perubahan tatanan kehidupan khususnya perubahan karakter masyarakat (the behavior change collaborative) yakni perubahan perilaku bersama-sama yang dimulai dari diri sendiri dengan membudayakan memakai masker, membudayakan rajin mencuci tangan serta membudayakan tetap jaga jarak. Tentunya perubahan karakter ini akan berdampak positif ke depannya. Komunikasi bukan lagi sekedar upaya menyampaikan pesan tapi harus sudah sampai pada tahap membangun sosial dan budaya masyarakat. Carl I. Hovland[11] mengatakan komunikasi didefinisikan sebagai upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegas asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap. Objek studi Ilmu komunikasi bukan saja penyampaian informasi, melainkan juga pembentukan pendapat umum (public opinion) dan sikap public (public attitude) yaitu membangun dan menciptakan pemahaman atau pengertian bersama. Saling memahami atau mengerti bukan berarti harus menyetujui tetapi mungkin dengan komunikasi terjadi suatu perubahan sikap, pendapat, perilaku ataupun perubahan secara sosial. Maka, jadilah manusia yang bertanggung jawab bagi manusia lain karena pandemi belum berhenti namun solidaritas masyarakat sangat berarti.
DAFTAR PUSTAKA
- Denis, AR and Joseph S Valacich. 1999. Rethinking Media Richness; Towards A Theory of Media Synchronicity. Proceedings of the 32nd Hawaii International Conference on Systems Science.
- Efendi, Onong Uchyana. Dinamika Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
- Hovlan, Carl I. et al. 1953. Communication and Persuasive : Psychological Studies of Opinion Change. New Haven : Yale University Press.
- Katz E, Lazarsfeld 1951. Personal Influence 2a ed.New York: Free Press.
- Leech, Thomas. Say It Like Shakespeare. India : McGraw-Hill Education.
- Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
- Rakhmat, Jalaludin. 2008. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
- 2005. Sosiologi Komunikasi. Yogyakarta : Arti Bumi Intaran.
- 2010. Komunikasi: Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta : Bumi Aksara.
[1] Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Medan Area
[2] Onong Uchyana Efendi. 2006. Dinamika Komunikasi. (Bandung:Remaja Rosdakarya) hal 4.
[3] Widjaja. 2010. Komunikasi: Komunikasi dan hubungan masyarakat. (Jakarta: Bumi
Aksara) hal 8.
[4] Sutaryo. 2005. Sosiologi Komunikasi (Yogyakarta: Arti Bumi Intaran) hal 43.
[5] Ibid, hal 44.
[6] Deddy Mulyana 2007. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. (Bandung : Remaja
Rosdakarya) hal 46.
[7] Jalaludin Rakhmat. 2008. Psikologi Komunikasi. (Bandung : PT Remaja Rosdakarya) hal
13.
[8] Thomas Leech. 2004. Say It Like Shakespeare.(India : McGraw-Hill Education)
[9] Alan R Denis and Joseph S Valacich. 1999. Rethinking Media Richness; Towards A Theory
of Media Synchronicity. Proceedings of the 32nd Hawaii International Conference on
Systems Science.
[10] Elihu Katz, Paul Lazarsfeld. 1951. Personal Ifluence 2a ed. NewYork : The Free Press.
[11]Carl I. Hovland et al. 1953. Communication and Persuasive : Psychological Studies of
Opinion Change. (New Haven: Yale University Press).